7.5.13

Tafsir Surah Ali Imran 8

0

Tafsir Indonesia Depag Surah Ali 'Imran 8

(Mereka berdoa): `Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)`.(QS. 3:8)


رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

Tafsir Al-Azhar Surah Ali 'Imran 7-9


 هُوَ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ مِنْهُ ءَايَٰتٌۭ مُّحْكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٌۭ ۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌۭ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنْهُ ٱبْتِغَآءَ ٱلْفِتْنَةِ وَٱبْتِغَآءَ تَأْوِيلِهِۦ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُ ۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِى ٱلْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلٌّۭ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُو۟لُوا۟ ٱلْأَلْبَٰبِ

Dia yang telah menurunkan kepada engkau sebuah Kitab, sebahagian daripada nya adalah ayat-ayat yang muhkam, yaitulah Ibu dari Kitab, dan yang lain adalah (ayat-ayat) yang mutasyabih. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada kesesatan, maka mereka cari-carilah yang mutasyabih daripadanya itu, karena hendak membuat fitnah dan karena hendak menta'wil. Padahal tidaklah mengetahui akan ta'wilnya itu, melainkan Allah. Dan orang-orang yang telah mendalam kepadanya ilmu, berkata mereka: Kami percaya kepadanya, semuanya itu adalah dari sisi Tuhan kami. Dan tidaklah akan mengerti, kecuali orang-orang yang mempunyai isi fikiran jua .

 Ayat Muhkam dan Mutasyabih


هُوَ الَّذي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتابَ مِنْهُ آياتٌ مُحْكَماتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتابِ وَ أُخَرُ مُتَشابِهاتٌ

"Dia yang telah menurunkan kepada engkau sebuah Kitab, sebahagian daripadanya adalah ayat-ayat yang muhkam, yaitulah Ibu dari Kitab, dan yang lain adalah (ayat-ayat) yang mutasyabih. " (pangkal ayat 7).

Di sini dijelaskanlah bahwasanya ayat-ayat dalam al-Qur'an itu ada dua macam, pertama muhkam; kedua mutasyabih. Misalnya ayat-ayat yang mengenai hukum, memerintahkan sembahyang, membayar zakat, mengerjakan puasa dan naik haji dan sebagainya.

Demikian juga tentang pembahagian waris harta pusaka, muhkam sebab jelas diterangkan, misalnya laki-laki rnendapat dua kali sebanyak yang diterima oleh perempuan. Ayat-ayat yang muhkam disebut sebagai Ibu dari Kitab. Ibu Kitab artinya menjadi sumber hukum, yang tidak bisa diartikan lain lagi.

Tetapi ada lagi ayat yang mutasyabih. Arti yang asli dari kata mutasyabih ialah serupa-serupa, macam-macam, tidak tepat kepada suatu arti. Panjang lebar perbincangan ulama tentang maksud mutasyabih itu.

Kita ambil suatu misal, yaitu ayat-ayat yang mengenai penyendirian hubungan bercampur-gaul di antara suami dengan isteri. Tidak berjumpa satu ayatpun dalam al-Qur'an yang menerangkan hal bersetubuh dengan terang-terang. Yang ada hanyalah perkataan seumpama awlamastumun nisa' yang berarti: atau menyentuh kamu akan perempuan. Atau ma lam tamas suhunna yang berarti: selama belum kamu sentuh mereka. Atau rafatsu ila nisa-ikum yang asal arti kata rafats itu ialah bercakap "main-main" antara suami-isteri seketika akan seketiduran. Atau libasun artinya yang asli ialah pakaian.

Kata-kata yang demikian mengandung dua arti yaitu arti yang tersurat dan arti yang tersirat. Sebab itu tidak heran kalau ada ulama fiqh yang berfaham bahwa wudhu' baru batal kalau bersetubuh dan setengah ulama fiqh lagi berfaham wudhu telah batal karena bersentuhan saja

Dimasukkan orang juga dalam ayat-ayat mutasyabih, huruf-huruf yang ada di pangkal surat seperti Alim-Lam-Mim, Alif-Lam-Ra , Ha- Mim , dan sebagainya itu. Karena dia mungkin hanya semata-mata huruf untuk permulaan surat, dan mungkin dia mengandung arti sendiri di belakang yang tertulis.

Tetapi yang lebih masyhur dimasukkan ke dalam ayat yang mutasyabih ialah membicarakan beberapa hal berkenaan dengan ketuhanan. seumpama ayat yang menerangkan bahwa Tuhan mempunyai tangan, atau Tuhan mempunyai banyak tangan, atau mempunyai dua tangan, atau Tuhan mempunyai banyak mata, atau Tuhan duduk bersemayam di atas 'Arsy.

Satu keterangan dari Imam as-Syaukani di dalam tafsir Fathul-Qadir tentang muhkam dan mutasyabih ini, yakni setelah beliau memperbincangkan pendapat ulama tentang ini, adalah menarik hati kita buat melengkapkan tafsir ini. Kata beliau, (kita simpulkan): Kalau kita renungkan, dapatlah kita mengambil kesimpulan bahwa seluruh ayat di dalam al-Qur'an itu adalah muhkam yaitu apabila kita meniliknya dari segi ayat-ayat yang lain. Di ayat lain Tuhan bersabda:

كِتابٌ أُحْكِمَتْ آياتُهُ
"Kitab yang telah dijelaskan ayat-ayatnya.' (Hud:1)

Dan sabda Tuhan lagi:

تِلْكَ آياتُ الْكِتابِ الْحَكيمِ
"Itulah ayat-ayat dari kitab yang Hakim " (Yunus: 1)

Yang dimaksud adalah kitab yang penuh dengan kebijaksanaan Kata Imam as-Syaukani selanjutnya: "Maksud muhkam di sini ialah benar ucapannya itu, jitu maknanya, penuh dengan balaghah fashahah, melebihi segala perkataan."

Dan ada pula ayat yang menerangkan bahwa seluruh ayat ayat al-Qur'an itu mutasyabih. Ada sabda Tuhan di ayat lain:

كِتاباً مُتَشابِهاً
"Kitab yang berserupa-serupaan !' (az-zumar 23)

Maksud mutasyabih dengan rnakna ini ialah bahwa ayat yang satu menyerupai ayat yang lain dalam kebenarannya, dalam kefasihannya, dalam keindahan dan dalam balaghahnya. Demikian kesan as-Syaukani.

Setengah ahli ilmu berkata bahwa terdapatnya ayat-ayat yang mutasyabih dalam al-Qur'an banyak pula faedahnya. Diantaranya ialah bahwa untuk mencapai arti dan maksudnya dan kebenaran yang terkandung di dalamnya, lebih sukar daripada ayat yang muhkam.

Dengan sebab yang demikian niscaya lebih besarlah pahala bagi orang-orang yang mujtahid, yang bersungguh-sungguh mengkajinya.

Mufassir az-Zamakhsyari dan ar-Razi setelah menguraikan beberapa pendapat tentang muhkam dan mutasyabih ini, akhirnya sampai kepada kesimpulan yang seperti ini. Yang maksudnya, adanya ayat yang mutasyabih bukanlah menutup pintu buat berfikir, tetapi menambah pahala bagi kesungguhan

فَأَمَّا الَّذينَ في‏ قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ ما تَشابَهَ مِنْهُ ابْتِغاءَ الْفِتْنَةِ وَ ابْتِغاءَ تَأْويلِهِ
"Adapun orang-orang yang didalam hatinya ada kesesatan, maka mereka cari-carilah yang mutasyabih daripadanya itu, karena hendak membuat fitnah dan karena hendak rnenta'wil."

Ayat ini menjelaskan bahwa ayat yang mutasyabih itu dapat dipergunakan oleh orang yang di dalam hatinya sudah ada bibit kesesatan untuk membuat fitnah. Atau untuk mencari penafsiran sendiri.

Ta'wil artinya ialah tafsir. Misalnya bertemu ayat bahwa Tuhan bersemayam di 'Arsy . lalu dibuatnya arti sendiri sehingga terbayanglah seakan-akan Allah itu seorang raja yang sedang duduk enak-enak di atas kursi singgasana mahligai. Atau Tuhan bertangan, dibuatnya ta'wil menurut seenaknya sendiri. sehingga melanggar hak Tuhan.

Maksudnya salah satu dari dua pertama karena membuat fitnah, membuat onar, sehingga i'tikad orang jadi rusak. Kedua hendak menunjukkan bahwa maksud itu timbul dari hati yang sesat dan jahat.

وَ ما يَعْلَمُ تَأْويلَهُ إِلاَّ اللهُ
"Padahal tidaklah mengetahui akan ta 'wilnya itu, melainkan Allah."

Oleh sebab itu maka ta'wil yang sah dari ayat Allah hanyalah ta'wil yang datang dari Allah sendiri. Adapun segala ta'wil yang timbul dari hati yang sesat, pasti tidak benar. Dengan ini bukanlah berarti bahwa semua orang dilarang menta'wilkan ayat yang mutasyabih. Dia boleh dita'wilkan asal menurut tuntunan Tuhan. Itulah sebabnya maka lanjutan ayat berbunyi:

وَ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنا
"Dan orang-orang yang telah mendalam padanya ilmu, berkata mereka. Kami percaya kepadanya, semuanya itu adalah dari sisi Tuhan kami."

Artinya bahwa ayat-ayat yang mutasyabih itu diterimanya dalam keseluruhan, dan tidak dia mencari ta'wil yang timbul dari hati tersesat; melainkan dengan hati tunduk kepada Allah. Dan selalu ia memohon kepada Tuhan agar Tuhan menambah lagi ilmunya.

" Ya Tuhanku! Tambahkan untukku ilmu."

Ar-Rasikhuna fil-ilmi , orang yang telah rasikh ilmunya, artinya telah dalarn, telah berurat, telah dianugerahi Tuhan segala kunci-kunci ilmu. Maka menurut kebiasaannya, apabila orang yang telah amat mendalam ilmunya mengakuilah dia akan kekurangannya. Sebagaimana Imam Syafi'i yang termasuk barisan orang rasikh, pernah berkata:

" Tiap-tiap Tuhan menambah ilmuku, bertambahlah aku faham akan kejahilanku."

Oleh sebab itu maka pada pokoknya Tuhan Allah sendiri yang tahu akan ta'wil ayat-ayatNya , Tuhan pun bisa memberikan ilmu ta'wil itu kepada barang siapa yang Dia kehendaki dari hambaNya. Nabi kita saw pernah memohonkan kepada Tuhan Allah, agar Ibnu Abbas diberi ilmu:

" Ya Tuhan! Berilah dia faham tentang agama dan ajarlah kiranya dia menta'wilkan."

Itu pula sebabnya maka ulama-ulama dan penganut Madzhab Salaf tidak mau mencari ta'wil atau tafsir dari ayat-ayat yang mengenai sifat Tuhan tadi. Misalnya tentang Allah bertangan, Allah mempunyai banyak mata, Allah bersemayam di `Arsy. Ketika Imam Malik ditanyai orang tentang tafsir ayat Tuhan bersemayam di `Arsy itu, beliau berkata:

"Arti `Arsy kita tahu , arti bersemayam kita faham, tetapi bagaimana caranya Tuhan bersemayam itu tidaklah dapat kita ketahui. Sedang menanyakan hal yang demikian adalah haram."

Dengan demikian dapatlah kita memahamkan bahwa kalau Tuhan Allah menyatakan bahwa ada ayatNya yang muhkam yang jelas dengan sahaja yang mengerti ta'wilnya, bukanlah berarti bahwa al-Qur'an ada ayat-ayat yang tidak bisa difahamkan oleh manusia. Peringatan Tuhan tentang ayat mutasyabih bukanlah berarti yang mutasyabih itu tidak bisa dipelajari. Peringatan ini ialah menyuruh bersungguh-sungguh menuntut Ilmu al-Qur'an dan memohon petunjuk dari Tuhan, sampai menjadi orang yang berilmu rasikh. Sebab kalau ilmu telah rasikh, tidaklah berbahaya lagi. Yang berbahaya ialah orang yang setengah-setengah berilmu, kepalang cerdik binasa negeri, kepalang alim binasa agama."

Rahasia ini dibuka kembali oleh lanjutan ayat:

وَ ما يَذَّكَّرُ إِلاَّ أُولُوا الْأَلْباب

"Dan tidaklah akan mengerti kecuali orang-orang yang mempunyai isi fikiran jua." (ujung ayat 7).

Oleh sebab itu maka ilmu al-Qur'an adalah ilmu yang meminta fikiran yang berisi clan mendalam. Menyediakan diri unuk itu, agar Allah memberikan taufiq dan hidayah, diberiNya tuntunan sehingga dapat menjadi:

"Ulama ialah ahli waris Nabi-nabi."
Maka adalah ulama yang berpengalaman berkata, bahwasanya dia telah mempelajari al-Qur'an itu, muhkam dan mutasyabih sejak waktu masih muda.

Tetapi meskipun dia telah tahu artinya, namun faham dan tafsir dan ta'wil diberikan Tuhan dengan berangsur-angsur, dari tahun ke tahun, masa ke masa. Kadang-kadang satu ayat setelah bertahun-tahun baru dia mendapat penafsiran yang baru. Sebabnya ialah karena tidak bermaksud hendak sesat atau zaighun. Dan menurut fatwa dari Imam Waki' kepada muridnya Imam Syafi'i, bahwasanya ingatan tentang hakikat ilmu itu akan bertambah bersinar apabila diperbanyak taat beribadah, dan sebaliknya cahaya itu kian lama kian dicabut apabila telah berbuat maksiat.
Sebab itu maka lanjutan ayat ialah doa kita kepada Tuhan:


رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

(8) Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kiranya kepada kami rahmat langsung dari Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah pemberi karunia.
  

رَبَّنا لا تُزِغْ قُلُوبَنا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنا وَ هَبْ لَنا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب
" Wahai Tuhan kami Janganlah Engkau sesatkan hati kami sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan kurniakanlah kiranya kepada kami rahmat langsung dari Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah pemberi kurnia." (ayat 8).

Dengan doa seperti inilah kita menghadapi segala soal di dalam hidup ini. Selama petunjuk Tuhan masih membimbing kita akan selamatlah kita. Jangan kita berani berjalan dengan kemauan sendiri, memperturutkan kehendak hawa-nafsu, niscaya kita akan sesat. Moga-moga Tuhan akan menjauhkan kita dari kesesatan itu. Tidaklah hidup di dunia yang paling sengsara daripada sesat sesudah petunjuk, atau kepadaman suluh di tengah jalan. Teringat kepada nikmat iman yang pernah dirasai, sekarang telah hilang dan payah buat kembali ke sana. Orang lain kelihatan maju terus menuju ridha Tuhan, sedang diri sendiri telah terbenam ke dalam lumpur kesesatan. Itu sebabnya selalu kita hendaknya memohonkan rahmat yang datang Iangsung dari Tuhan, rahmat ke dalam hati dan sikap hidup, yang memancar kepada amal dan perbuatan. Sampai kelak kita meninggal dunia dengan husnul­kahtimah.

Min ladunka Rahmatan; Rahmat yang langsung dari Engkau. Pada hakikatnya, tidak ada satupun rahmat yang kita terima, yang tidak langsung dari Tuhan, Tidak ada satu makhluk pun yang menurunkan rahmat kepada kita. Kalau misalnya kita menerima satu rahmat dengan perantaraan manusia, kitapun insaf bahwasanya manusia itu hanyalah penyalur belaka dari Tuhan, karena segala rahmat itu datang dengan melalui berbagai sebab.

Sedangkan Nabi saw menerima wahyu langsung dari Tuhan dengan perantaraan Jibril. Apatah lagi kita makhluk biasa ini. Tetapi bila di dalam ayat biasa ini disebut min ladunka rahmatan, maksudnya ialah supaya kita jangan lupa dari mana sebenarnya sumber rahmat. Kalau hal ini kita lupakan, ada kemungkinan dengan tidak kita sadari kita telah terpesong daripada tujuan Tauhid yang sebenarnya.

رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ ٱلنَّاسِ لِيَوْمٍۢ لَّا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخْلِفُ ٱلْمِيعَادَ
(9) Wahai Tuhan kami !  Sesungguhnya Engkaulah yang akan mengumpulkan manusia pada hari yang tidak di ragukan lagi padanya. Sesungguhnya Allah tidaklah menyalahi Janji.
  

رَبَّنا إِنَّكَ جامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لا رَيْبَ فيهِ
" Wahai Tuhan kami , Sesungguhnya Engkaulah yang akan mengumpulkan rnanusia pada hari yang tidak diragukan lagi padanya." (pangkal ayat 9).

Yaitu Hari Akhirat, tempat berhitung dosa dan pahala, amal dan ibadat, cita baik dan niat buruk. Moga-­moga perhitungan yang baiklah yang akan didapati pada hari yang tidak diragukan itu.

إِنَّ اللهَ لا يُخْلِفُ الْميعاد
"Sesungguhnya Allah tidaklah menyalahi janji." (ujung ayat 9).

Karena janji yang telah Dia janjikan itulah maka kita senantiasa berusaha menempuh jalan yang diridhaiNya, mengambil pimpinan dari RasulNya, berpedoman pada kitabnya, dengan ayat-ayatNya, yang muhkam dan mutasyabih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Copyright © Tafsir Depag

Canvas By: Fauzi Blog Responsive By: Muslim Blog Seo By: Habib Blog